Tuesday 9 December 2014

Pantai Laliang “Blue Sky n White Sand”


Pantai Laliang, Sumba Barat, NTT

Pantai di sumba tak terlepas dari pasir putihnya yang begitu bersih  serta campuran antara butiran halus dan kasar. Namun di pantai Laliang ini butiran pasirnya sangat halus dan sungguh menggemaskan.


Walaupun garis pantainya pendek sekitar lima ratus meter untuk ukuran pantai di Sumba, pasirnya putih ditambah langit biru dengan gumpalan awan yang sangat cantik sungguh luar biasa memanjakan mata.  Menjadi sangat menarik karena pantai ini diapit oleh dua tebing batu tinggi pada bagian sisi kiri dan kanannya seperti pelindung, karena sebelum mendekat ke sisi pantai kita akan melewati jalan yang agak curam pada sisi tebing bagian kanan.







Kelihatan dari jauh tebing batu ini mempunyai kesan garang dan angker  dalam perasaan saya, namun semoga saja semua pengunjung  yang datang ke sini juga merasakan hal yang sama sehingga ada ketakutan mejahili  lukisan Sang Khalik yang begitu megah dan indah ini dengan menebang pohon-pohon di sekitarnya, membakarnya atau membuang sampah plastik di sembarang tempat, terutama para anak-anak remaja  yang sedang jatuh cinta ketika berkunjung ke tempat ini bersama segerombolan kawan-kawannya.

Kalau yang sering menonton televisi Indonesia pasti pernah ingat iklan rokok  yang menampilkan para lelaki bermain bola api…, nah itu tempatnya ada di pantai yang berpasir putih ini.


Satu jam perjalanan dari kota Waikabubak, Sumba Barat, NTT,  dengan menggunakan sepeda motor rasanya sangat menyenangkan menuju pantai Laliang, karena kita akan melewati persawahaan yang menghijau dan sebagian lagi yang telah menguning di Wanokaka. Perjalanan yang jauh akan terbayar lunas ketika tiba dipantai ini. (Emang duit heee )


Langit biru dengan gumpalan awan


Teman saya Pian





Wednesday 3 December 2014

ROAD TO SUMBA 2



Sunset di pantai Ende

Rintik-rintik gerimis hujan tiba-tiba mengagetkan aku ketika terlelap beberapa saat di tepi pelabuhan Ipi-Kab Ende-NTT.Akupun bergegas memindahkan barang dan tas laptop bawaanku ke dalam mobil. Begitupun sahabatku Pian dua koli barang dagangan harus ditutupi dengan beberapa kantong plastik agar luput dari rintik air hujan.Kulihat jam di handphone-ku menunjukan pukul 02.00 wita. Dalam hati kesal karena kapal yang ditunggu untuk melakukan perjalanan menuju Pulau Sumba tak kunjung tiba. Aku berusaha melongok dekat pagar pelabuahan namun tak nampak titik lampu menandakan bahwa kapal akan memasuki pelabuhan Ipi-Ende.


Ole ta! Mau gila saja, sudah tunggu dari tadi sore.. tapi kapal belum datang juga ka” guman seorang penumpang kapal. Mukanya layu, raut wajahnya seakan menahan dinginnya angin laut mungkin karena kelamaan tidur beratapkan awan dan terang bintang. Dari logatnya aku kenal ia berasal dari kota tetangga Ruteng-Kab. Manggarai. Dari Kota Ruteng ia harus menempuh perjalanan hampir sekitar 8 jam sebelum memasuki kabupaten Ende. Ia telah melewati 2 kota kabupaten yakni kota Borong-Kab.Manggarai Timur dan kota Bajawa-Kab.Ngada yang merupakan rumah orang tuaku.

Ibu-ibu pedagang di pelabuhan menari Ja'i
Namun tak beberapa lama sebuah alunan nada mengehentakan kaki membangkitkan semangat keluar dari radio wireless milik seorang anggota polisi yang kebetulan ikut menjaga ketertiban setiap kapal masuk di pelabuhan itu. Ia duduk di samping lapak jualan para pedagang asongan membuka musik Ja'i. Ja'i merupakan jenis musik adat tradisonal asal Bajawa.

Seketika sejumlah ibu-ibu pedagang yang mejajakan barang daganganya kepada para penumpanag langsung berjoget ria melepas segala ketegangan akibat kapal yang tak kunjung tiba. Mereka menari sambil mengajak para portir lelaki. Tawa ceria keluar dari sejumlah penumpang kapal menyaksikan aksi mereka. Kaki kanan dihentakan, kaki kiri bergerak maju tanpa mendahuli kaki kanan seperti sedang menyeret, bagai orang berjalan pincang dengan telapak kaki kanan seperti tertusuk duri, seperti itulah gaya menari Jai. Bagi sebagian orang yang pelum pernah mencobanya pasti akan sangat sulit dan terlihat lucu seperti ada kena bisul di bokongnya mengikuti tarian Jai. Apalagi sejumlah ibu-ibu asal dari Ende yang nota bene bukan tariannya.

  
Waktu telah menunjukan pukul 04.00 terdengar stom kapal akan memasuki pelabuhan. Akupun bergegas menyiapkan barang bawaan bersama sahabatku Pian. Kami berdua bergegas memasuki pintu pelabuhan. Kami haus berjubel dan berdesakan dengan penumpang lain agar cepat memasuki kapal agar dapat kebagian tempat tidur ketika di atas kapal. Setelah mendapat tempat di atas kapal akau langsung mengamankan barang bawaan kami berdua dan menjaga tempat tidur agar tak diserobot penumpang lain. Sedangkan Pian harus turun lagi ke pelabuahan untuk menjemput isteri dan anaknya. Rupanya harga tiket Rp. 67. 000 kelas ekonomi tak cukup aman dan nyaman bagi sahabatku Pian karena 2 orang anaknya yang masih balita. Sistem pendingin kapal di dek mungkin saja tak berfungsi atau mungkin saja saking banyaknya peumpang hingga AC-nya kelebihan beban hingga udara teras panas. Tak heran bau asam bercampur bau parfum dan bau–bau yang lain yang tidak pernah aku kenal di darat sebelumnya, bercampur jadi satu. Akupun harus turun ke de dek 2 mungkin ada kamar para ABK yang bisa di sewa untuk perjalanan kami.


Kamar para ABK bervariasi harganya tergantung negosiasi. Aku dapat kamar dengan 3 tempat tidur harga 100 ribu. Kami hanya kebagian 2 tempat tidur. Satu tempat tidur lagi sudah disewakan penumpang yang hendak ke Surabaya dengan tarif 350 ribu rupiah. Namun lumayan kamarnya lebih dingin. Ada televisi dengan beberapa saluran. Wc dan kamar mandi yang dekat dengan kamar sehingga tak meyulitkan buat yang membawa anak atapun mabuk laut. Untuk makanan langsung diatar oleh ABK pemilik kamar. Ya itulah usaha sewa kamar para ABK istilah nambah uang rokok selain gaji.


KM Awu di pelabuahan Nusantara Waingapu, Sumba Timur
Transportasi laut untuk Indonesia timur memang sangat jauh dari kenyamanan. Itulah yang aku rasakan. Ketika hendak naik tangga kapal. Kitapun harus hati-hati kecelakaan bisa saja terjadi. Apalagi sejumlah portir yang meringsek masuk tanpa mempedulikan sejumlah penumpang. Seperti hukum rimba “Siap cepat, siap kuat dialah yang dapat”. Itulah yang terekam ketika aku berada di atas kapal. Sejumlah penumpang yang terlambat naik harus rela tidur di lorong-lorong dek kapal. Sepertinya kapasitas penumpang melebihi standar angkut atau sejumlah tempat tidur sudah dijadikan tempat taruh barang bawaan sehingga lebih terlihat sebagai kapal barang.

Belum lagi jadwal kapal yang sering molor sehingga para penumpang harus mennggu berja-jam di pelabuhan.Namun semua kepenatan akan sirna ketika kita mulai berlayar. Laut yang masih bersih dan langit biru dan matahari terbit akan menemani perjalanan KM.AWU dari pelabuhan Ipi-Ende menuju pelabuhan Wingapu-Sumba Timur. Kapal ini akan menyinggahi beberapa pelabuhan lagi seperti Bima-Lombok-Benoa.


Tantangan tersendiri mungkin bagi para traveler mania yang ingin merasakan serunya perjalaan dengan merasakan kapal penumpang seperti yang dirasakan penumpang kapal kebanyakan.


Semua gejolak dan rasa bercampur jadi satu bagai sebuan adonan kue. Akan banyak cerita dan pengalaman  yang penting kita bisa menikmatinya sebagai sebuah khasana traveling kita. 



Patung Kuda di Waingapu-Sumba Timur

NB : Harga yang tertera dapat sewaktu-waktu berubah

Tuesday 2 December 2014

RAKSASA MENYEMBUR “WAIKELO SAWAH”





Mendengar nama NTT pasti akan terbayang daerah yang gersang, kering dan berbatu. Namun bagi beberapa orang Jakarta biasa menyapa NTT dengan Nanti Tuhan Tolong, ya tak bisa disangkal itulah kalimat yang diberikan karena jarangnya pembangunan.
Anggapan itu seakan sirna ketika melihat tempat bernama Waikelo sawah ini yang berada di kabupaten Sumba Barat, NTT.  Aliran air yang keluar dari mulut gua begitu  jernih dan segar seperti raksasa yang menyemburkan air dari dalam mulutnya.

Kolam di dalam gua
Bila kita mendekatkan diri pada mulut gua akan terlihat kolam dalam gua yang besar dengan air yang segar dan jernih. Menurut warga setempat yang tinggal di sekitar gua akan terpampang pemandangan yang menarik ketika sang surya tepat berada di atas kepala. Tak kalah indah pada mulut gua terdapat  stalktit yang terlihat seperti gigi dari raksasa tersebut.

Stalaktit pada mulut Gua

Debit air tak akan berkurang ketika memasuki  kering , karena sumber air dari gua mengaliri sawah di sekitar tempat ini. Menurut saya mungkin ditambahkan kata sawah pada kata waikelo karena banyaknya sawah yang dialiri dari mata air gua waikelo ini.

Hamparan Sawah yang dialiri air dari Gua
Untuk mencapai tempat ini tidaklah sulit  karena hanya berjarak sekitar tujuh kilo meter dari kota waikabubak, ibu kota kabupaten sumba barat. Bila menggunakan sepeda motor atau ojek dengan biaya yang murah sekitar 30 ribu. Bila ingi mandi jangan lupa sediakan pakian ganti.


Patung Marapu di Tengah Aliran Air